BERSYUKUR BISA TETAP MENJAGA NKRI

oleh Trijanto Rahim (Nrp 3910705960670)

Peristiwa di Aceh saat ia berpangkat Kopral Dua dengan jabatan Wakil Komandan Regu 1 Kompi “A” itu, takkan pernah bisa dilupakannya. Kisah ini diceritakan , dengan penuturan gaya bahasa “saya”. Saya merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, yang lahir (27 Juni 1970) dan besar di Gorontalo dari pasangan Nurdin Rahim (alm) dan Stin Ismail. Tahun 1991 saya dilantik menjadi prajurit Angkatan Darat dengan pangkat terendah, yaitu Prajurit Dua (Prada), yang selanjutnya mendapat penugasan pertama di Batalyon Infanteri 713/Satya Tama, di Gorontalo. Menjadi tentara adalah sudah menjadi cita-cita sejak kecil. Hobi berlari yang sudah menjadi kebiasaan ternyata membawa manfaat dalam kehidupan saya sebagai prajurit. Sehingga pada tahun 1995, saya dipercaya mewakili Provinsi Sulawesi Utara pada Tri Lomba Juang di Jakarta. Itu adalah pengalaman pertama saya mengikuti event perlombaan tingkat nasional dan berhasil merebut posisi nomor tujuh. Selanjutnya, pada event Lomba Lari 10 Km dalam rangka HUT Kodam VII/Wirabuana pada 1996 di Makassar, saya berada di urutan nomor tujuh lagi dari 10.000 peserta lomba. Untuk tingkat lokal (Gorontalo), kurang lebih sepuluh kali saya menyabet gelar nomor satu untuk lima maupun sepuluh Kilometer. Ada satu peristiwa yang tidak bisa saya lupakan ketika bertugas di Aceh. Peristiwa tersebut terjadi saat saya berpangkat Kopral Dua (Kopda) dengan jabatan sebagai Wakil Komandan Regu (Wadanru) 1 Kompi “A”. Berangkat tugas dengan meninggalkan seorang istri (Ellen) dan dua anak laki-laki saya (Febry dan Jery). Kejadian di Aceh tidak pernah sampai ke telinga keluarga saya. Karena memang saya sudah menitip pesan kepada Komandan Batalyon untuk tidak memberitahukan kepada mereka sampai saya kembali ke home base , supaya tidak membebani pikiran istri, anak, orangtua maupun saudara-saudara saya. Sebulan setelah saya kembali ke markas satuan, barulah saya menceritakan kejadian itu pada mereka. Kontak senjata dan tertembak Penugasan operasi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) merupakan penugasan yang keempatkalinya selama jadi prajurit Batalyon Infanteri 731/Satya Tama. Sebelumnya juga saya pernah melaksanakan Operasi Seroja di Timor-Timur selama kurang lebih dua tahun dari tahun 1992-1993 dan 1997-1998, lalu Operasi Sintuwu Maroso di Pos 2001-2002. Di Aceh, Pasukan Yonif 731/Satya Tama diberikan kepercayaan sebagai pasukan pemukul dibawah kendali Korem 012/Teuku Umar/Sektor-B/Satgas-12 Koops TNI. Tiba di Aceh Selatan pada 1 Juli 2003, saat Aceh akan memasuki situasi Darurat Militer tahap kedua yang akan dimulai pada 19 Juli sampai 19 Nopember 2003. Saat itu pemberontak GAM sering melakukan aksi perlawanan terhadap aparat TNI/Polri. Saat itu sepak terjang GAM sangat meresahkan masyarakat, baik berupa intimidasi terhadap Pemerintah Daerah, memeras, merampok dan membunuh warga serta membakar rumah-rumah penduduk maupun gedung-gedung sekolah. Belum genap bertugas di Aceh Selatan, tepatnya tanggal 19 Juli 2003, kami mendapat perintah untuk membebaskan tiga warga sipil yang diculik dan disandera oleh GAM di Desa Gunung Rotan, Labuhanhaji Timur, Aceh Selatan. Saya, yang tergabung dalam Kompi Alap-Alap pimpinan Kapten Inf Arif Bastari bergerak dalam hubungan kompi yang terbagi dalam empat tim dan saya berada dalam Tim Alap-Alap 1. Berjalan mendekati sasaran pada malam hari yang diiringi oleh hujan. Dingin dan letih bukan penghalang bagi kami. Keesokan harinya, kira-kira jam 06.00 pagi, kami sudah mendekati sasaran. Medannya cukup tertutup, karena tepat ditengah-tengah perkebunan kopi dan lada yang didalamnya terdapat gubuk-gubuk kecil tempat para petani beristirahat dan bermalam untuk menjaga kebun tersebut. Terkadang gubuk-gubuk tersebut dijadikan tempat persembunyian dan tempat berkumpul GAM. Pukul 07.00 dalam cuaca mendung, saya yang berada paling depan melihat ada gubuk. Selanjutnya saya memberikan isyarat kepada rekan-rekan saya untuk berlindung karena saya melihat ada beberapa orang dalam gubuk tersebut, lalu saya berteriak “jangan bergerak!!!” , dengan posisi senjata siap untuk menembak. Tiba-tiba saya melihat seoarang laki-laki berlari dari pintu belakang menuju semak-semak yang tidak jauh dari gubuk tersebut. Segera saya memberikan tembakan peringatan ke atas. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba ada tembakan balasan dari depan yang mengarah langsung ke saya. Ternyata ada anggota GAM yabg sedang berjaga di luar gubuk tersebut. Saya segera tiarap dan membalas tembakan. Bunyi tembakan musuh semakin lama semakin menjauh. Mereka melarikan diri sambil tetap menembak Pada kontak tembak tersebut, tanpa saya sadari lengan kiri saya terluka kena tembakan. Dan baru terasa saat melihat ada darah dingin membeku di telapak tangan kiri saya. Luka itu saya balut dengan ikat kepala yang saya pakai sebelum dilakukan pertolongan pertama oleh tim kesehatan untuk selanjutnya dievakuasi ke Rumah Sakit Tapaktuan. Untungnya peluru tersebut tidak mengenai tulang saya, sehingga luka tembak tersebut tidak berakiba fatal dan hanya dirawat sekitar tiga minggu. Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena masih diberkahi umur panjang dan diberikan kesempatan untuk tetap menjaga NKRI. Saat ini pangkat saya sudah Sersan Dua. Karena saya diberikan kesempatan untuk mengikuti Sekolah Calon Bintara pada tahun 2006. Waktu kejadian itu saya masih menjabat sebagai Wakil Komandan Regu, namun sekarang, Alhamdulillah saya beruntung telah naik jabatan sebagai Komandan Regu 2, Peleton Morse/Kompi Bantuan, Yonif 713/Satya Tama. Lebih beruntung dan membahagiakan lagi, karena saat ini saat dikaruniakan lagi seorang putri yang saya beri nama Fanisa Rahim yang lahir di Gorontalo pada 5 Agustus 2006 Saya bukan ingin menjadi atau pernah menjadi yang terhebat, sebab masih banyak rekan-rekan yang justru mengalami hal-hal yang lebih berat dari saya saat melaksanakan tugas operasi. Mungkin saya hanya beruntung saja. Bukan bermaksud untuk menggurui ataupun menasehati, namun sebagai sesama prajurit adalah suatu kewajiban untuk saling mengingatkan bahwa kewaspadaan haruslah menjadi prioritas utama dimanapun dan kapanpun, terutama di daerah konflik. Peristiwa yang saya alami itu tidak menjadikan saya jadi penakut dan lemah, tapi justru membuat saya tambah percaya diri dan yakin untuk menyerahkan jiwa-raga saya kepada tanah air tercinta, Indonesia. (zulkarnain/dikutip dari defender)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: